Senin, 09 November 2015

  DIARE



Dalam kehidupan sehari - hari  penyakit diare  memang tak jarang kita jumpai, bahkan bisa dikatakan setiap orang pasti pernah mengalaminya,karena penyakit diare dapat menyerang siapa saja baik itu anak – anak maupun dewasa yaitu dengan adanya tingkatan mulai dari diare pada bayi, anak –anak dan dewasa. Terkadang kita sampai menagis menahan rasa saki tersebut, bolak balik ke  kamar mandi, dan kelihatannya menjadi orang yang sangat gelisah.Tetapi meskipun semua orang pernah mengalaminya, yang paling sering diserang oleh penyakit ini adalah anak bayi dan balita.  Namun melihat keadaan saat ini, sangat disayangkanan banyak kalangan yang menyepelekan penyakit ini dalam arti mereka tidak peduli akan kesehatan mereka, karena mereka sama sekali tidak mengerti apa dampak dari penyakit ini, padahal penyakit ini dapat menyebabkan rasa sakit yang berkepanjangan dan menyebabkan kematian.
Apa itu diare ? Ada beberapa defenisi mengenai diare :
·         Diare adalah suatu keadaan abnormal dari pengeluaran sisa makanan denganfrekuensi tiga kali atau lebih dengan melihat konsisten lembek, cair sampai dengan tanpa darah dan lendir dalam tinja.(Mahmudah, n.d.)

·         Penyakit diare merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anakdi dunia, yang menyebabkan satu biliun kejadian sakit dan 3-5 juta kematian di setiap tahunnya. Mekanisme penularan utama adalah melalui tinja - mulut, dengan makanan danair yang merupakan penghantar untuk kebanyakan kejadian.(Rakhmadi, 2005)

·         Diare merupakan salah satu penyakit infeksiyang menjadi penyebab rasa kesakitan pada anak balita terutama yangberusia di bawah tiga tahun. Hal ini berkaitan erat dengan makanan, imunitasterhadap infeksi. Secara biologis usia 6-36 bulanmerupakan masa  yang rentan terhadap infeksi, gizi dan diare.(Masyuni, 2010)


·         Diare merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatanmasyarakat, karena angka kesakitan masih tinggi dan dapat menyebabkankematian, terutama apabila penanganan penderitanya terlambat dilakukan.(Amaliah, 2008)
Kita telah tahu apa itu penyakit diare.  Kadang kala sulit untuk mengetahui apa penyebab nya. Penyakit diare bukanlah penyakit yang datang dengan sendirinya. Biasanya ada yang menjadi pemicu terjadinya diare. Maka timbul pertanyaan dalam benak kita “ Apa penyebab diare ? “ Berikut ini beberapa penyebab diare, yaitu:
1.      Penyebab tidak langsung
Penyebab tidak langsung atau faktor-faktor mempercepat terjadinya diare seperti, sosial budaya hygiene dan sanitasi, keadaan gizi, kepadatan penduduk, social ekonomi dan factor-faktor lain.
2.      Penyebab langsung
Termasuk dalam penyebab langsung antara lain infeksi bakteri virus dan parasit, malabsorbi, alergi, keracunan bahan kimia maupun keracunan oleh racun yang diproduksi oleh jasad renik, ikan, bah dan sayur-sayuran ditinjau dari sudut patofisiologi.(Masyuni, 2010)
Penyakit diare adalah panyakit yang akut,salah satu penyakit yang dapat menular dan penyakit yang infeksi. Sebaiknya kita harus mengetahui jenis jenis dari penyakit diare, dan mengetahui bagaimana gejala- gejala yang dapat terjadi  untuk dapat lebih berhati – hati karena sangat berbahaya.Jenis penyakit diare dan gejala - gejalanya  adalah sebagai berikut:
1.      Diare cair akut
Diare cair akut memiliki ciri utama: gejalanya dimulai secara tiba-tiba, tinjanya cair dan encer, penyembuhan biasanya terjadi dalam waktu 3-7 hari. Kadang kala gejalanya bisa berlangsung sampai 14 hari, dan lebih 75% orang  mengalami diare cair akut.
2.      Disentri
Disentri memiliki ciri utama: adanya darah dalam tinja, berkurangnya nafsu makan dan penurunan berat badan yang cepat, dan disertai kram diperut. Sekitar 10-15% anak -anak  balita mengalami disentri.
3.      Diare yang menetap atau persisten
Diare yang persisten memilki ciri utama: pengeluaran tinja encer disertai darah, gejala berlangsung lebih dari 14 hari dan ada penurunan berat badan.(Hamdani, 2008)
 Tanpa melihat jenis – jenis Penyakit diare tersebut, gejala – gejala  umum dapat kita  rasakan dengan sendirinya. Awalnya seorang akan sering cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, tidak ada nafsu makan, yang disertai dengan timbulnya diare. Keadaan tinja makin cair, kemungkinan mengandung darah atau lender, yang berwarna menjadi kehijau-hijauan yang disebabkan karena bercampur dengan empedu anus dan sekitarnya menjadi lecet yang mengakibatkan tinja menjadi asam.  Gejala muntah dapat terjadi sebelum dan sesudah diare, bila telah banyak kehilangan air dan elektrolit maka akan terjadi dehidrasi, berat badan menurun. Pada bayi disekitar ubun-ubun besar dan cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir menjadi kering.(Masyuni, 2010)
 Penyakit diare adalah penyakit yang menular. Bagaimana cara penularannya?  Kuman penyebab diare ditularkan melalui fecal-oral makanan dan minuman yang tercemar tinja dan kontak langsung dengan tinja penderita.(Masyuni, 2010)
Penyakit diare juga dapat ditularkan secara tidak langsung melalui air. Air yang tercemar kuman, bila digunakan orang untuk keperluan sehari – hari tanpa direbus atau dimasak terlebih dahulu, maka kuman akan masuk ke tubuh orang yang memakainya , sehingga orang tersebut dapat terkena diare. Penularannya penyakit diare dapat juga terjadi antara lain melalui air yang terkontaminasi oleh bakteri, makanan yang terkontaminasi bakteri, melalui vektor penyakit, melalaui tanah yang terkontaminasi.
Kita telah mengetahui bahwa penyakit diare sangatlah berbahaya. Sebaiknya kita dapat melakukan pencegahan sebelum terjadi hal yang membahayakan tersebut. Pencegahan ini sangat lah mudah, dan hal yang sangat dibutukkan dari kita adalah kita peka terhadap kesehatan kita. 
Secara umum ada tiga tingkatan pencegahan penyakit diare yakni : pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention) yang meliputi promosi kesehatan dan pencegahan khusus. Pencegahan ini dapat ditujukan pada faktor penyebab  lingkungan dan faktor pejamu. Untuk menjaga daya tahan tubuh dari pejamu maka dapat dilakukan peningkatan status gizi dan pemberian imunisasi, penyedian air bersih, penyediaan tempat pembuangan tinja, kebiasaan mencuci tangan.
Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention) yang meliputi diagnosis dini serta pengobatan yang tepat . Pencegahan ini ditujukan kepada anak yang telah menderita diare yaitu dengan menentukan diagnosa dini dan pengobatan yang cepat dan tepat, serta untuk mencegah terjadinya efek samping dan komplikasi. Prinsip pengobatan diare adalah mencegah dehidrasi dengan pemberian oralit. Pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention) yang meliputi pencegahan terhadap cacat dan rehabilitasi. Dalam pencegahan ini  penderita diare jangan sampai mengalami kecatatan dan kematian akibat dehidrasi. Jadi penderita diare diusahakan mengembalikan fungsi fisik, psikologis yang  semaksimal mungkin. Pada tingkat ini juga dilakukan usaha rehabilitasi untuk mencegah terjadinya efek samping dari penyakit diare. Usaha yang dapat dilakukan yaitu dengan terus mengkonsumsi makanan bergizi dan menjaga keseimbangan cairan.(Hamdani, 2008)
Pencegahan diare dapat juga dilakukan dengan berbagai  cara yang  antara lain:
Ø  mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting sebelum makan, setelah buang air besar, sebelum memegang bayi,  setelah menceboki anak dan sebelum menyiapkan makanan.
Ø  Meminum air minum sehat, air yang telah diolah dengan cara merebus, pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi.
Ø  Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu, lipas.
Ø  Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan jamban dengan tangki septik.(Masyuni, 2010)
 Tidak selamanya penyakit diare itu kita anggap buruk. Banyak cara pengobatan yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dan mempercepat penyembuhan penyakit ini. Cara yang dapat kita gunakan adalah:
1.      Meminum oralit atau dapat membuatnya sendiri dengan melarutkan 1 sendok teh garam dan 8 sendok teh gula dalam 1 liter air matang.
2.      Mengkonsumsi sejumlah besar air yang tidak diseimbangi dengan elektrolit yang dapat dimakan dapat mengakibatkan ketidakseimbangan elektrolit yang berbahaya dan berakibat fatal
3.      Mencoba makan lebih sering tapi dengan porsi yang lebih sedikit, frekuensi teratur, dan jangan makan atau minum terlalu cepat.
4.      Menjaga kebersihan dan isolasi: Kebersihan tubuh merupakan faktor utama dalam membatasi penyebaran penyakit.(Hamdani, 2008)
Hal – hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk penyembuhan diare adalah:
1.      Mengubah apa yang kita makan.
 Beberapa jenis makanan dapat mengakibatkan diare: produk susu (susu atau keju), masakan yang digoreng, makanan berlemak termasuk mentega, margarin, minyak atau kacang, makanan pedas, makanan yang mengandung banyak serat yang tidak larut. Ini termasuk buah-buahan atau sayur-mayur mentah, roti gandum, jagung, atau kulit dan biji buahan.
Dan sebaiknya kita makam yang dapat membantu pemberhentian diare tersebuat, yakni: pisang, nasi putih, saus apel, sereal, roti tawar bakar atau biskuit kering, makaroni atau mi biasa,telur rebus, bubur gandum, kentang rebus tumbuk.
2.      Pengobatan diare tradisional
Ø  Akar bunga teratai obat diare
Cara pengobatan: menyediakan 50 gram rimpang teratai dan 10 gram jahe. Kemudian dicuci bersih lalu diparut dan diambil airnya. Minum ramuan tersebut tiga kali sehari setiap pagi, siang dan sore.
Ø  Bunga teratai untuk obat disentri
Cara pengobatan: mengambil 50 gram rimpang teratai dan 10 gram jahe, kemudian diparut atau dijuice, ditambahkan 100 cc air lalu direbus sampai mendidih. Setelah dingin ditambahkan 1 sendok makan madu dan sekaligus diminum.
Dari beberapa penjelasan diatas, kita telah mengetahui  penyakit diare yaitu penyakit  yang sangat akut,dapat menular dan sangat berbahaya terutama bagi bayi dan balita. ada  penyebabyang memicu terjadinya diare, gejala – gejala,  cara penularannya, maka kita harus lebih peduli dengan kesehatan kita dan lingkungan sekitar. Lebih baik kita itu mencegah daripada terjadi hal yang sangat fatal. Memang pengobatan untuk penyakit diare itu sangat banyak, tetapi alangkah baiknya kita itu mencegah dahulu dan selalu berjaga – jaga setiap saat dan selalu membuat lingkungan kita bersih supaa penyakit diare tersebut tidak dapat terjadi. Apabila diare telah terjadi maka akan lebih baik melakukan pemeriksaan dan pengobatan. Karena itu jauh lebih baik dan disarankan daripada membiarkannya dan berdampak pada resiko yang cukup berat.




 DAFTAR PUSTAKA

Amaliah, S. (2008). Hubungan sanitasi lingkungan dan faktor budaya dengan kejadian diare pada anak balita di desa toriyo kecamatan bendosari kabupaten sukoharjo.
Hamdani. (2008). Pengaruh faktor upaya pengobatan dan pencegahan yang dilakukuan ibu pada balita dengan penyakit diare di puskesmas bandar baru kabupaten pidie jaya.
Mahmudah, A. R. E. H. M. (n.d.). Hubungan kebiasaan cuci tangan dan sanitasi makanan dengan kejadian diare pada anak sd negeri podo 2 kecamatan kedungwuni kabupaten pekalongan 1,2,3, 76–84.
Masyuni. (2010). I prmplementasiogram promosi pencegahan diare pada anak berusia dibawah tiga tahun (studi kasus di puskesmas mangkurawang kabupaten kutai kartanegara.
Rakhmadi, N. E. M. dan A. (2005). Jurnal kesehatan kartika jurnal kesehatan kartika, 28–36.









 Keperawatan Jiwa Isolasi Sosial



Manusia merupakan mahluk sosial, dimana untuk mempertahankan kehidupannya manusia sangan memerlukan hubungan interpersonal yang positif baik dengan individu lainya maupun dengan lingkungannya.  Hubungan interpersonal yang positif dapat terjadi apabila individu merasakan kedekatan, saling membutuhkan dn saling tergantung untuk membangun jati diri individu. Ketidakmampuan individu dalam mempertahankan hubungan interpersonal yang positif dapat mengakibatkan terjadinya stress. Stress yang meningkat dapat mengakibatkan reaksi negative dan gangguan kesadaran dan gangguan jiwa. Gangguan jiwa merupakn respon mal adaftif dari lingkungan internal dan eksternal, dinyatakan melalui pikiran, perasaan dan perilaku yang tidak sesuai dengan norma budaya setempat dan mengganggu fungsi sosial, pekerjaan dan fisik. Salah satu jenis gangguan jiwa berat adalah skizofrenia yang merupakan sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai area fungsi individu termasuk fungsi berpikir, berkomunikasi, menerima, merasakan, menunjukkan emosi dan berperilaku yang dapat diterima secara rasional. Adapun gejala dari segi negatifnya adalah deficit perilaku yaitu menarik diri dari masyarakat tidak mampu berhubungan dengan orang lain dan menyebabkan seoarang mengalami gangguan funsi sosial dan isolasi sosial.
Isolasi sosial adalah keadaaan dimana seseorang individu menglami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu brinteraksi dengan orang lain sekitar disebabkan oleh pikiran negative atau pikiran yang mengancam. Individu merasa ditolak, tidak diterima, kesepian dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain, mencoba menyendiri, tidak ada kontak mats, sedih dan berprilaku bermusuhan. Isolasi sosial tidak hanya berdampak secara keseluruhan yaitu keluarga dan lingkungan sosialnya.
Meskipun bukan penyebab utama kematian, gangguan jiwa isolasi sosial merupakan penyebab utama disabilitas pada kelompok usia paling produktif yakni antara 15-44 tahun. Dampak sosial berupa penolakan, pengucilan dan diskriminasi begitu pula dampak ekonomi berupa hilangnya hari produktif untuk mencari nafkah bagi penderi maupun keluarga yang harus merawat dan tingginya biaya perawatan. Salah satu kendala dalam upaya penyembuhannya pasien gangguan jiwa adalah pengetahuan masyarakat dan keluarga. Keluarga dan masyarakat menganggap penyakit yang memalukan dan membawa aib bagi keluarga. Kondisi ini diperberat dengan sikap keluarga yang cenderung memperlakukan pasien dengan disembunyikan,diisolasi, dikucilkan bahkan sampai ada yang di pasung.
Keluarga merupakan faktor yang sangat penting dalam proses penyembuhan klien yang mengalami gangguan jiwa. Kondisi keluarga yang yang teraupetik yang mendukung klien sangat membantu kesembuhan klien. Berdasarkan evidence based practice psikoeduksi keluarga adalah terapi yang digunakan untuk memberikan informasi pada keluarga untuk meningkatkan keterampilan merawat anggota keluarga mereka sehingga diharapkan keluarga akan mempunyai koping positif terhadap stress dan beban yang dialaminya dan terapi ini juga dapat meningkatkan kemampuan kognitif karena dalam terapi ini mengandung unsur untuk meningkatkan pengetahuan keluarga tentang penyakit, mengajarkan tehnik yang dapat membantu keluarga untuk mengetahui gejala pennyimpangan perilaku dan peningkatan dukungan bagi anggota keluarga tersebut.
            Selain itu terapi aktivitas kelompok sangat efektif mengubah perilaku karena didalamnya kelompok terjadi interaksi satu dengan yang lain dan saling mempengaruhi. Terapi ini juga sangat penting dilakukan untuk membantu dan memfasilitasi klien menarik diri agar perilaku menarik dirinya berkurang dan mampu untuk bersosialisai secara bertahap melalui melatih kemampuan bersosialisasi klien dengan metode dinamika kelompok, diskusi atau Tanya jawab serta bermain peran atau stimulasi.  
Salah satu bentuk psikoterapi yang dapat diterapkan pada klien isolasi sosial dengan penurunan kemampuan dalam melakukan interaksi sosial karena pengalaman yang tidak mennyenangkan dan pikiran negatif yang muncul pada individu sebagai ancaman individu yaitu dengan terapi perilaku kognitif. Menurut ( Martin,2010) bahwa penerapan terapi psikososial dengan perilaku kognitif dapat merubah pola piker yang negative menjadi positif sehingga perilaku yang maladaptif yang timbul akibat pola pikir yang salah juga akan berubah menjadi perilaku yang adaptif.
Komunikasi teraupetik juga memiliki peranan yang besar dalam proses pemulihan pasien gangguan jiwa khususnya pasien gangguan jiwa dengan diagnose isolasi sosial. Kommunikasi teraupetik merupakan satu-satunya metode pemulihan yang diaplikasikan oleh perawat terhadap pasien gangguan jiwa, disamping pemberian obat-obatan yang bersifat sebagai penenang bagi pasien. Keberhasilan komunikasi teraupetik dalam proses pemuliah pasien dengan gangguan jiwa jenis isolasi sosial tidak terlepas dari pelaksanaan tahap-tahap komunikasi teraupetik yang baik. Ada empat tahap  dalam komunikasi teraupetik yang dilakukan oleh perawat dalam proses pemulihan yaitu adalah tahap pra interaksi sebagai tahap persiapan sebelum melaksanakan komunikasi dengan pasien, tahap perkenalan untuk mendapatkan perhatian dan kepercayaan dari pasien, tahap kerja yang berguna untuk mengubah perilaku pasien menjadi lebih baik dan normal serta tahap terminasi dimana perawat memutuskan untuk menyelesaikan pertemuan secara sementara untuk bertemu kembali. Dengan diberikannya beberapa terapi diatas, sehingga pada akhirnya diharapkan individu dengan masalah isolasi sosial memiliki peningkatan kemampuan untuk melakukan interaksi sosial dan bereaksi secara adaptif dalam menghadapi masalah atau situasi yang sulit dalam setiap fase hidupnya.


            

             
CITRA  PERAWAT


 Menjadi seorang perawat merupakan suatu pilihan hidup bahkan merupakan suatu cita-cita bagi sebagian orang.Namun, adapula orang yang menjadi perawat karena suatu keterpaksaan atau kebetulan, bahkan menjadi profesi perawat sebagai pilihan terakhir dalam pilihan hidupnya. Sebagai contoh, Saya ingin menjadi seorang perawat karna cita-cita yang  diemban semenjak kanak-kanak. Didorong rasa ingin mengabdi dan melayani, saya bertekat melanjutkan study di Ilmu Keperawatan Universitas Diponegoro. Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa saya terpilih menjadi mahasiswi yanag nantinya akan menjadi seorang perawat. Terlepas dari semua itu, perawat merupakan suatu profesi yang mulia.Seorang perawat mengabdikan dirinya untuk menjaga dan merawat pasien tanpa membeda-bedakan mereka dari segi apapun. Setiap tindakan yang dilakukan oleh seorang perawat, akan sangat berharga bagi nyawa orang lain. Seorang perawat juga mengemban fungsi dan peran yang sangat penting dalam memberikan asuhan keperawatan secara holistik kepada pasien.Namun, sudahkah perawat di Indonesia melakukan tugas mulianya dengan baik?Bagaimanakah citra perawat yang ideal dimata masyarakat?

            Perkembagan dunia kesehatan yang semakin pesat kian membuka pengetahuan masyarakat mengenai dunia kesehatan  khusunya bidang keperawatan. Hal ini ditandai dengan banyaknya masyarakat yang mulai menyorotitenaga kerja kesehatan dan mengkritisi berbagai pelayanan kesehatan. Pengetahuan masyarakat yang semakin meningkat, berpengaruh terhadap meningkatnya tuntutan masyarakat akan mutu pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan keperawatan. Oleh karena itu, citra seorang perawat kian menjadi sorotan.Hal ini tentu saja merupakan tantangan bagi profesi keperawatan dalam mengembangkan profesionalisme selama memberikan pelayanan yang berkualitas agar citra perawat senantiasa baik di mata masyarakat.
Menjadi seorang perawat ideal bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi untuk membangun citra perawat ideal di mata masyarakat.Hal ini dikarenakan kebanyakan masyarakat telah didekatkan dengan citra perawat yang identik dengan sombong, tidak ramah, tidak pintar seperti dokter dan sebagainya.Seperti itulah kira-kira citra perawat di mata masyarakat yang banyak digambarkan di televisi melalui sinetron-sinetron tidak mendidik.Untuk mengubah citra perawat seperti yang banyak digambarkan masyarakat memang tidak mudah, tapi itu merupakan suatu keharusan bagi semua perawat, terutama seorang perawat profesional.Seorang perawat profesional seharusnya dapat menjadi sosok perawat ideal yang senantiasa menjadi model bagi perawat vokasional dalam memberikan asuhan keperawatan. Hal ini dikarenakan perawat profesional memiliki pendidikan yang lebih tinggi sehingga ia lebih matang dari segi konsep, teori. Namun, hal itu belum menjadi jaminan bagi perawat untuk dapat menjadi perawat yang ideal karena begitu banyak aspek yang harus dimiliki oleh seorang perawat ideal di mata masyarakat.

            Perawat yang ideal adalah perawat yang baik.Begitulah kebanyakan orang menjawab ketika ditanya mengenai bagaimana sosok perawat ideal di mata mereka.Mungkin kedengarannya sangat sederhana.Namun, di balik semua itu, pernyataan tersebut memiliki makna yang besar. Masyarakat ternyata sangat mengharapkan perawat dapat bersikap baik dalam arti lembut, sabar, penyayang, ramah, sopan dan santun saat memberikan asuhan keperawatan.Dalam kehidupan sehari-hari, kita memang masih menemukan perilaku kurang baik yang dilakukan oleh seorang perawat terhadap klien saat menjalankan tugasnya di rumah sakit. Hal itu memang sangat disayangkan karena bisa membuat citra perawat menjadi tidak baik di mata masyarakat.Ternyata memang hal-hal seperti itulah yang memunculkan jawaban demikian dari masyarakat.Untuk menjadi perawat ideal di mata masyarakat, diperlukan kompetensi yang baik dalam hal menjalankan peran dan fungsi sebagai perawat.Adapun peran perawat diantaranya ialah pemberi perawatan, pemberi keputusan klinis, pelindung, rehabilitator, pemberi kenyamanan, komunikator, penyuluh, dan peran karier.Semua peran tersebut sangatlah berpengaruh dalam membangun citra perawat di masyarakat. Namun, menurut saya peran  paling penting dalam membangun citra perawat ideal di mata masyarakat diantaranya ialah peran sebagai pemberi perawatan, peran sebagai pemberi kenyaman dan peran sebagai komunikator.

            Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan merupakan peran yang paling utama bagi seorang perawat. Perawat profesional yang dapat memberikan asuhan keperawatan dengan baik dan terampil akan membangun citra keperawatan menjadi lebih baik di mata masyarakat. Saat ini, perawat vokasional masih mendominasi praktik keperawatan di rumah sakit maupun di tempat pelayanan kesehatan lainnya.Tidak dapat dipungkiri bahwa perawat vokasional memiliki kemampuan yang baik dalam melakukan praktik keperawatan.Namun, perawat vokasional memiliki pengetahuan teori yang lebih terbatas jika dibandingkan dengan perawat profesional.Dengan semakin banyaknya jumlah perawat profesional saat ini, diharapkan dapat melengkapi kompetensi yang dimiliki oleh perawat vokasional.Seorang perawat profesional harus memahami teori dalam melakukan praktik keperawatan yang sangat berguna saat menjelaskan maksud dan tujuan dari asuhan keperawatan yang diberikan secara rasional kepada pasien. Hal ini tentu saja akan membawa dampak baik bagi terciptanya citra perawat ideal di mata masyarakat yaitu perawat yang cerdas, terampil , ramah, berjiwa pelayan dan profesional.

            Kenyamanan merupakan suatu perasaan dalam diri manusia. Masyarakat yang menjadi pasien dalam asuhan keperawatan akan memiliki kebutuhan yang relatif terhadap rasa nyaman. Mereka mengharapkan perawat dapat memenuhi kebutuhan rasa nyaman mereka.Oleh karena itu, peran perawat sebagai pemberi kenyamanan, merupakan suatu peran yang cukup penting bagi terciptanya suatu citra keperawatan yang baik. Seorang perawat diharapkan mampu menciptakan kenyamanan bagi pasiensaat  menjalani perawatan dan mengidentifikasi kebutuhan yang berbeda-beda dalam diri pasien akan rasa nyaman. Kenyamanan yang tercipta akan membantu pasien dalam proses penyembuhan, sehingga proses penyembuhan akan lebih cepat. Pemberian rasa nyaman yang diberikan perawat kepada pasien dapat berupa sikap atau perilaku yang ditunjukkan dengan sikap peduli, sikap ramah, sikap empati pada saat memberikan asuhan keperawatan.Sebagai contoh, memanggil pasien dengan namanya merupakan salah satu bentuk interaksi yang dapat menciptakan kenyamanan bagi pasiendalam menjalani perawatan.Pasien  akan merasa nyaman dan tidak merasa asing di rumah sakit. Perilaku itu juga dapat menciptakan citra perawat yang ideal di mata pasienitu sendiri karena pasien mendapatkan rasa nyaman.

            Peran perawat sebagai komunikator juga sangat berpengaruh terhadap citra perawat di mata masyarakat.Masyarakat sangat mengharapkan perawat dapat menjadi komunikator yang baik.Pasien  juga manusia yang membutuhkan interaksi pada saat ia menjalani asuhan keperawatan. Interaksi yang dilakukan dengan perawat sedikit banyak akan berpengaruh terhadap peningkatan kesehatan pasien. Keperawatan mencakup komunikasi dengan pasien dan keluarga, antar-sesama perawat dan profesi kesehatan lainnya.Kualitas komunikasi yang dimiliki oleh seorang perawat merupakan faktor yang menentukan dalam memenuhi kebutuhan individu, keluarga.Sudah seharusnya seorang perawat memiliki kualitas komunikasi yang baik saat berhadapan dengan pasien, keluarga maupun dengan siapa saja yang membutuhkan informasi mengenai masalah keperawatan terkait kesehatan pasien.
            Hal-hal di atas merupakan  gambaran mengenai peran dalam membangun citra perawat ideal di mata masyarakat. Untuk mewujudkan hal itu, tentu saja diperlukan kompetensi yang memadai, kemauan yang besar, dan keseriusan dari dalam diri perawat sendiri untuk membangun citra keperawatan menjadi lebih baik.Perawat yang terampil, cerdas, baik, komunikatif, dan dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan baik, tampaknya memang merupakan sosok perawat ideal di mata masyarakat. Semoga kita dapat menjadi  perawat yang mampu membawa citra perawat ideal di mata masyarakat.                                                                    
 HIDUP PERAWAT INDONESIA!!!!!

                       


Cinta Yang Luar Biasa

Kaulah malaikat penjaga dalam hidup ku
Kaulah pelita dalam gelapku
Kaulah pengangan dalam rapuhku
Kaulah penolong dalam susahku

Tak pernah sedikitpun kudengar kau mengeluh
Padahal aku nakal dengan semua perbuatank
Kumerajuk dengan semua keinginanku                                 
Dan kumarah jikatak terpenuhi apa yang kumau

Tak pernah sedikit pun kau kecewa
Padahal nilai pelajaranku banyak yang buruk
Padahal aku suka membantah saat kau beri nasehat
Dan aku tahu banyak hal buruk yang telah aku lakukan

Papa, Mama
Luar biasa kesabaran dan cintamu padaku
Luar biasa pengorbanan dan pengampunanmu pada ku
Luar biasa semua yang telah kau lakukakan untukku

Betapa beruntungnya akulahi darimu
Dibesarkan dan dijaga oleh mu
Jika bukan karenamu, tak akan bisa aku seperti ini
Berdiri tegar sampai hari ini

Sekalipun kukumpulkan banyak uang, tak akan terbayar jasamu
Sekalipun kukorbankan seluruh kehidupanku, tak tertandingi dengan jasamu
Sekalipun seluruh dunia kuserahkan dibawah kaki mu,tak tersaingi cintamu
Tak akan sebanding apa yang kau bisa kuberikan dengan apa yang telah kau berikan

Papa , Mama
Terima kasih, terima kasih, terima kasih untuk semuanya
Cinta mu, kesabaranmu, pengorbananmu, pemeliharaanmu
Tuhan , terima kasih untuk Papa Mama yang kau berikan




    










Jumat, 06 November 2015

Terima kasih Papa Mama

Suatu minggu tepatnya tanggal 01 Nopember 2015, saya mengikuti ibadah di gereja GKPS Semarang. Sebelum hari tersebut saya ditunjuk sebagai vokalis untuk menyanyikan sebuah lagu bersama dengan teman saya. Ketepatan pada minggu ini adalah minggu dimana seorang anak harus berterimakasih kepada orang tua atas segala pengorbanan dan cinta kasih orang tua selama ini. Saya menyayikanan sebuah lagu yang berjudul :

Saat tangan kecilku mulai terbuka

Saat tangan kecilku mulai terbuka
Dan mata ini memandang dunia
Kurasakan belaian kasih tiada taranya
Diiringi tawa penuh cinta

Saat kakiku mulai melangkah
Kulihat harapan diwajahmu
Harapan yang terbaik Untuk diriku
Doamu dinaikan dan stiap saat namaku disebut

Trimakasih untuk cinta
Trimakasih tuk keluarga yang indah
Kutemukan kasih Allah dalam papa-mama
Setiap hari kubersyukur pada Tuhan tuk keluarga yang indah
Papa mama, engkau yang terbaik


Dan pada saat lagu ini diyanyikan saya juga membacakan sebuah puisi berjudul “Cinta yang Luar biasa”. Ketika saya membacakan puisi banyak diantara anak muda yang ibadah menangis menyesali semua apa yang telah mereka perbuat. Dan saya juga sampai meneteskan air mata, dimana saya juga begitu rindu kepada orang tua saya. Sesuai dengan yang direncanakan dimana saat saya membacakan puisi kami akan memberikan setangkai bunga kepada orang tua atas segala pengorbanan kami. Saya begitu sedih dan menangis dimana saya tidak bisa memberikan setangkai bunga ini untuk orang tua saya karena jarak yang begitu jauh. Dan saya hanya bisa memperlihatkan foto saya yang lagi memengang bunga. 




Sekumtum bunga untuk Papa dan Mama
Terimakasih Tuhan atas Papa dan Mama yang kau berikan.